Darah hitam
berceceran seolah dibentuk rapi diatas tanah putih, darah yang berasal dari
ujung pedang kesatria-kesatria hebat yang sedang beradu, berperang saling
mengalahkan.
Kalau kalian pernah dengar tentang keagungan
Colloseum di Roma sana, tentang bagaimana kejamnya para gladiatornya, aku
berani jamin kawan, pertunjukan yang sedang kusaksikan ini jauh melebihi itu,
arenanya jauh lebih luas, lebih indah, petarung-petarungnya pun jauh lebih
handal, lebih gagah.
Semua
kesatrianya diberikan senjata yang sama,
"Sepuluh pedang berbeda panjang"
Pedang
indah hasil tempaan raja langit dan bumi, lebih tajam dari belati, lebih tajam
dari pedang Excalibur King’s Arthur sekalipun.
Aku
tersenyum puas menikmati hasil karyaku ini. Ya! Arena ini aku yang buat, aku
yang rancang. Akulah otak dari tontonan gila ini. Aku dan temanku Mister.
Di arena buatanku ini, tidak akan ada teman yang bisa dijadikan tempat berlindung, tidak ada itu yang namanya koalisi, tidak ada yang
akan menolong, semua sendiri, berdiri dikaki masing-masing, saling menari
memainkan sepuluh pedang berbeda panjang dikedua tangan mereka, mengalahkan,
menjatuhkan!
Ada ratusan
bahkan mungkin ribuan kesatria yang sedang bertempur dibawah sana, dahsyat
sekali! Tidak hanya lelaki gagah perkasa, tidak hanya pemuda tangguh dengan
otot-ototnya yang kekar, di arena sana juga ada perempuan anggun, para belia
belasan usia, bahkan lansia.
Aku kejam?
Memang!
Tapi jangan
pernah berfikir pertempuran ini tidak adil!
Dinegeriku ini , dari sejak awal
menginjak bangku pendidikan, setiap rakyatnya tak peduli itu perempuan atau
lelaki sudah diajarkan seni memainkan sepuluh pedang, seni merangkai jurus demi
jurus. Jadi salah kalau kalian beranggapan seorang perempuan anggun tidak akan
bisa mengalahkan pemuda tangguh berbadan kekar, salah kalau kalian beranggapan
seorang belia belasan usia, seorang lansia tidak bisa berbuat apa-apa, semua
punya modal yang sama.
Aku mencoba
mengenali satu demi satu kesatria dibawah sana, mencoba membaca mereka dari goresan
darah hitam yang mereka tumpahkan ke tanah putih dasar arena, walaupun
sebenarnya hal itu adalah tugas dari tiga kesatria sepuluh pedang yang
kutunjuk. Tapi tetap saja, aku ingin mengenal seperti apa sosok yang akan
menemaniku nanti.
Seorang ibu
muda yang sedang hamil tua diujung arena menarik perhatianku, gigih sekali perempuan itu pikirku, padahal dengan keadaan kehamilannya seperti itu, harusnya
dia sekarang sedang duduk diam bersantai dirumah dimanja suami, bukan malah
ikut pertempuran seperti ini. Tapi sepertinya saat kami berangkat nanti anaknya
sudah lahir, sehingga kalaupun dialah pemenangnya, dia siap menemaniku.
Tapi tunggu
dulu, bagaimana dengan bayi kecilnya? Kalau dia ikut denganku nanti, tentu
bayinya akan ditinggal pergi, kasihan sekali! Anak bayi tentu sangat
membutuhkan kehadiran seorang ibu disisinya, tidak mungkin juga kalau harus
dibawa bersama kami, aku tidak ingin jadi pengasuh bayi nanti ditanah para
raja, aku tidak ingin tidurku terganggu oleh suara tangisan bayi dimalam hari!
Ah..ibu itu bukan orang tepat untuk menemaniku !
Ada seorang
remaja muda belia disisi lain arena, penampilan rapi, terlihat sekali dia sangat memperhatikan setiap detail pakaian yang menempel ditubuhnya.Dia cukup berbakat, hasil goresan
darah hitam yang dia hasilkan cukup membuatku takjub,
untuk remaja seumurannya, dia luar biasa menurutku. Kucoba mencari tahu lebih
lanjut sosok remaja hebat ini, kubaca setiap goresan darah hitam yang dia
rangkai, mataku terhenti digoresan :
“Setiap hal
yang dilakukan secara mendadak itu, hasilnya pasti akan buruk!”
HAH!
Remaja belia
ini juga bukan teman yang cocok untukku!
Kucoba
kembali mengalihkan pandanganku ke seluruh sisi arena, kembali mengamati,
mencari sosok yang kurasa tepat untuk menemaniku nanti.
Ah, bukan
yang ini!
Bukan yang
ini!
Aku tidak
ingin dia!
. .
…..
.........
Sombong
sekali gayanya!!
Pandanganku
terhenti disosok seorang pemuda cungkring di sudut utara arena, perawakannya
tinggi kurus, wajahnya dihiasi kumis janggut tipis, garis rahangnya tegas.
Aku tertarik
untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pemuda ini, seberapa sombong dia! Apa
yang dia punya sampai dia bisa berlagak angkuh seperti itu, kucoba perhatikan
gores demi gores darah hitam yang dia tumpahkan ke lantai putih arena.
Goresan
macam apa ini? Kenapa seperti ini goresannya?
Aku tidak
menyangka, pemuda yang keliatan angkuh dan sombong itu akan menghasilkan
goresan seperti ini, goresan darah hitam yang dia tumpahkan kedasar arena sungguh
berbeda sekali dengan gayanya yang dingin dan angkuh.
Rangkaian
goresan darah hitam yang dia hasilkan dari sepuluh pedangnya begitu hangat,
penuh gairah dan nafsu untuk memenangkan pertempuran, kesan dingin dan angkuh
yang kudapat saat melihat pemuda ini langsung hilang didalam goresannya.
Well, don’t
judge the heart by the look.
Aku makin
tertarik dengan sosok pemuda ini, kembali kubaca goresan demi goresan darah
hitam yang dia tumpahkan.
Siapa pemuda
ini?
Datang
darimana dia?
Makin kubaca
goresannya, makin tersihir aku olehnya, goresannya seolah mampu membawaku ke masa depan, aku dengan jelas bisa
melihat diriku sedang berjalan berdua dengannya menyusuri tanah para raja
dimalam hari, berkelakar berbagai mimpi.
Ya, itulah
hadiah dari pertempuran maha dahsyat ini, aku akan merangkul bangga mereka sang
juara untuk menginjakkan kaki ditanah para raja, tanah para kesatria sepuluh
pedang hebat dunia dilahirkan, tanah yang diimpikan oleh para kesatria-kesatria
yang sedang bertempur dibawah sana.
“Lex, kenapa
rambutmu harus kau warnai seperti itu, sungguh jelek sekali!”
"Apa kau bilang?" jawabku terpengarah
Aku terkejut mendengarnya celotehannya, ku tatap tajam dia, heran.
Berani
sekali anak ini pikirku, belum juga genap sehari aku mengenalnya, sudah berani
dia mengomentari penampilanku, lancang sekali.
Aku terdiam,
memikirkan jawaban terbaik untuk menjawab coletehan bangsat anak ini, aku tidak
ingin
dikalahkan oleh argumen bodohnya, hargai diriku dipertaruhkan!
dikalahkan oleh argumen bodohnya, hargai diriku dipertaruhkan!
“Wuaaaaaaaaaaaaaaaaaa
!! Kecooooooooaaaa !!!”
Teriakan
dari arena dibawah sana, membangunkanku dari lamunan panjang, aku terkejut!
Kucoba mencari
darimana suara teriakan itu berasal.
Hahahaa, ternyata suara teriakan itu berasal dari pemuda cungkring sombong yang ku pikirkan barusan, dibawah sana dia sedang terbirit-birit memanjat tiang arena menghindari kecoa yang tiba-tiba muncul dari celah tembok.
I Got You Boy! ucapku sambil tersenyum sinis.
Sekarang aku
punya senjata ampuh untuk melawan celotehan-celotehan bodoh nan jujurnya
nanti.
KECOA !!
Aku yakin,
celotehan bodoh yang diucapkannya didunia khayalku tadi akan dilakukannya lagi
didunia nyata.
Tapi, aku menyukainya!
Aku menyukai teman yang jujur, apa adanya, daripada teman yang
hanya bisa memuji dan memuji, membuai melambungkan!
Well, truth hurts!
Well, truth hurts!
“Aku hanya
ingin berpetualang menjelajahi tanah Inggris kecoa bangsaaaaaaat!! berpetualang ditanah baru, bertemu orang-orang baru!! pergi sana
makhluk terkutuk, jangan ganggu aku !!” teriaknya sambil memeluk tiang arena.
Aku tertawa
melihat kejadian bodoh itu, lucu sekali ! hahahaa. :D
Kutatap ketiga
temanku, tiga kesatria sepuluh pedang hebat yang kutunjuk sebagai juri
pertempuran ini.
Mereka balik
menatapku sambil tersenyum.
Ya, semoga
saja ketiga temanku sepakat denganku, bagaimanapun mereka lah yang menentukan
siapa pemenang pertempuran ini, bukan aku.

Any feedback, questions or ideas are always welcome. In case you are posting Code ,then first escape it using Postify and then paste it in the comments
0 comments: